Sistem Kesehatan Akademik (Academic Health System/AHS) Universitas Gadjah Mada kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat sinergi pendidikan dan pelayanan kesehatan melalui penyelenggaraan Workshop Monitoring Evaluasi Jejaring Pendidikan, Pemrosesan Perjanjian Kerja Sama dengan Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM sebagai Rumah Sakit Pendidikan Utama, serta Penyusunan Rencana Strategis AHS 2025–2029. Kegiatan ini dilaksanakan pada 3–4 Desember 2025 di Eastparc Hotel Yogyakarta dan diikuti oleh sekitar 70 peserta dari FK-KMK UGM, rumah sakit jejaring AHS, serta perwakilan Dinas Kesehatan di wilayah Yogyakarta.
Workshop ini bertujuan untuk melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan AHS UGM agar selaras dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024. Selain itu, kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperkuat koordinasi, menyelaraskan peran institusi pendidikan dan rumah sakit, serta menyusun arah pengembangan AHS UGM lima tahun ke depan secara lebih terintegrasi dan adaptif.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Pengabdian kepada Masyarakat FK-KMK UGM, Dr. dr. Sudadi, Sp.An-TI., Subsp.N.An(K)., Subsp.An.R(K). Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya membangun relasi yang kuat dan jejaring yang solid antara fakultas dan rumah sakit pendidikan guna mendukung keberhasilan rencana strategis AHS di masa mendatang. Forum ini diharapkan menjadi ruang bertukar gagasan, khususnya dalam menyelaraskan sistem penilaian dan mobilisasi peserta didik di lingkungan rumah sakit pendidikan.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D., menyampaikan bahwa sistem kesehatan akademik UGM telah memperoleh pengakuan internasional. Namun, capaian tersebut sekaligus menjadi tantangan untuk terus memperkuat implementasi dan melakukan perbaikan berkelanjutan agar integrasi sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan dapat berjalan optimal dan berdampak luas.
Agenda kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan Sistem Informasi Pendidikan Jejaring RSUP Dr. Sardjito (SIPAJERO) oleh dr. Danny Pratama Kuswadi, Sp.PD-KGH. Dalam paparannya, ia menegaskan pentingnya sistem informasi pendidikan yang terintegrasi antara universitas dan rumah sakit sebagai salah satu indikator keberhasilan AHS. Sistem ini dinilai mampu mendukung berbagai aspek pendidikan kedokteran, mulai dari evaluasi akademik, konseling, penempatan stase, penilaian kinerja 360 derajat, hingga pengelolaan publikasi.
Pembahasan strategis semakin diperdalam melalui pemaparan Rencana Strategis Sistem Kesehatan Akademik 2025–2029 yang disampaikan oleh dr. Haryo Bismantoro, MPH, selaku Koordinator AHS Wilayah IV. Ia menekankan bahwa integrasi dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mencetak sumber daya manusia kesehatan yang adaptif dan inovatif. Rencana strategis ini bersifat dinamis dan terbuka terhadap penyesuaian sesuai dengan tantangan dan kebutuhan pelayanan kesehatan di masa depan.
Dalam rencana strategis tersebut, AHS UGM menetapkan empat isu prioritas, yaitu menua sehat, kesehatan ibu dan anak, tanggap kedaruratan, serta kepariwisataan kesehatan. Keempat isu ini dipandang relevan dengan kebutuhan nasional dan regional, sekaligus menjadi peluang penguatan peran AHS UGM dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan dan pendidikan kedokteran.
Kegiatan ini juga menghadirkan sesi gelar wicara bertema “Kebijakan dan Ekspektasi UGM terkait Penyelenggaraan Tridharma di Rumah Sakit Pendidikan” yang menghadirkan para narasumber dari unsur pimpinan fakultas dan rumah sakit. Diskusi menyoroti pentingnya integrasi tridharma perguruan tinggi dalam layanan rumah sakit, penguatan penelitian kolaboratif, inovasi pelayanan kesehatan, serta pemanfaatan rumah sakit jejaring sebagai laboratorium pendidikan berkelanjutan.
Forum diskusi interaktif kemudian memberikan ruang bagi mitra rumah sakit jejaring untuk menyampaikan perspektif, kebutuhan, serta tantangan dalam implementasi AHS di daerah masing-masing. Diskusi yang dipandu oleh Sri Nenggih Wahyuni, S.I.P., M.A. ini menghasilkan berbagai masukan strategis terkait penguatan peran jejaring AHS, dampak positif implementasi AHS, serta prioritas pengembangan sistem ke depan.
Diskusi tematik selanjutnya membahas isu tanggap kedaruratan, kesehatan ibu dan anak, menua sehat, serta kepariwisataan kesehatan secara lebih spesifik. Para pemantik diskusi menekankan pentingnya kesiapan manajerial rumah sakit, kolaborasi lintas sektor dan komunitas, penguatan layanan paliatif, serta pemenuhan standar dan sertifikasi sebagai fondasi pengembangan layanan kesehatan unggulan di wilayah AHS UGM.
Selain diskusi kebijakan dan strategis, kegiatan ini juga diisi dengan pemaparan data terkini dari 15 rumah sakit pendidikan jejaring AHS UGM, pembahasan mekanisme visitasi jejaring, serta proses pembaruan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan RSA UGM sebagai rumah sakit pendidikan utama. Langkah ini dilakukan untuk memastikan implementasi AHS berjalan sesuai standar serta membuka peluang kolaborasi yang lebih strategis dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, kegiatan ini sejalan dengan komitmen pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Melalui monitoring, evaluasi, dan penguatan jejaring secara berkelanjutan, AHS UGM berupaya mewujudkan sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan yang unggul, terintegrasi, dan berdampak nyata bagi masyarakat serta mendukung transformasi sistem kesehatan nasional.